Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Samosir bertekad untuk menanamkan budaya Batak kepada warga dan menjadikan tradisi Batak sebagai salah satu nilai jual pariwisata di daerah ini.
Hal inilah yang menjadi alasan digelarnya visual ritual Mangalahat Horbo awal September lalu. Ritual ini menjadi gambaran permohonan doa dan ucapan syukur kepada Sang Pencipta dalam melaksanakan Launching Grand Strategi Pembangunan Samosir, Sabtu (4/9) lalu di Sianjur Mulamula,Pusuk Buhit,Kecamatan Limbong, Kabupaten Samosir. Deretan ritual yang diperagakan dalam acara dalam acara Mangalahat Horbo tersebut diikuti ribuan pengunjung yang ingin menyaksikan secara langsung bagaimana budaya masyarakat Batak dalam mengucapkan syukur kepada Sang Pencipta.
“Secara historis acara ini merupakan acara pemujaan terhadap Mula Jadi Na Bolon atau Tuhan Sang pencipta. Budaya ini haruslah dilestarikan sebagai upaya untuk mempertahankan tradisi yang menjadi salah satu nilai jual budaya Batak,” terang Bupati Samosir Mangindar Simbolon. Visualisasi budaya Batak yang dikolaborasikan dengan agama Katolik ini menjadikan kerbau tersebut sebagai pertanda persembahan manusia kepada Tuhan yang telah menciptakan langit dan bumi.
Peran Datu Parmangmang atau Pemimpin Ritual Mangalahat Horbo dalam visual pesta panen yang disebut sebagai istilah Asean Taon yang dilaksanakan di Sianjur Mulamula, Pusuk Buhit, Kecamatan Limbong, Kabupaten Samosir itu sengaja diserahkan kepada Uskup Agung Medan AB Sinaga. Selain itu, Datu Panggorga atau Pemimpin Pengarah dilakukan oleh P Viktor yang juga seorang pastor,Raja Huta dengan istilah Bolahan Amak yakni Bius Limbong-Sagala.
Alasan untuk melibatkan pelaku- pelaku gereja dalam pelaksanaan ritual Mangalahat horbo ini sangatlah kuat. Sebab setelah ajaran nasrani masuk ke daerah Batak, banyak ritual budaya yang tidak dilakukan lagi.Adanya istilah pemujaan berhala menjadi - alasan untuk memusnahkan budaya tersebut dari kehidupan sehari- hari. Padahal budaya yang diwariskan oleh leluhur masyarakat Batak terdahulu merupakan budaya yang sangat lekat dengan kultur yang tertata dari segi geografis kawasan tanah Batak yang gersang dan tandus.
Bukan hanya budaya dan ritual penyembahan terhadap Tuhan yang dimusnahkan. Melainkan beragam kekayaan alam lainnya seperti kayu-kayu besar juga ikut ditebang. Sebab itu jugalah dalam acara pemujaan terhadap Tuhan yang dilakukan dalam ritual Mangalahat Horbo, Pemkab Samosir melakukan penanaman pohon-pohon Batak seperti pohon beringin, pohon jabijabi, pohon hariara dan beberapa jenis pohon lainnya.
Selain untuk mengembalikan kawasan Samosir sebagai kawasan yang berbudaya Batak, Pemkab juga ingin menjadikan kawasan Samosir sebagai kawasan yang memiliki nilai jual pariwisata baik secara kultur dan secara geografis. “Karena semua ritual Batak dijalankan sesuai dengan kondisi alam.Itulah sebabnya kita melakukan penanaman nilai lewat Mangalahat Horbo dan kampanye untuk melestarikan budaya dan kekayaan alam yang khas,” terang Bupati Samosir Mangindar Simbolon, usai ritual Mangalahat Horbo.
Dalam ritual tersebut, Mangindar mengatakan bahwa banyak nilai yang tersirat sebagai bagian dari penataan kehidupan yang lebih baik.Tentunya ini menjadi perhatian serius bagi kelangsungan kebudayaan kaum Batak.“Kekuatiran ini bukan tidak beralasan sebab banyak orang Batak yang sudah tidak paham dengan pelaksanaan beberapa budaya Batak,”bebernya. Mangindar juga mengatakan bahwa sesungguhnya ada kesalahan pemahaman bagi masyarakat yang menilai bahwa beragam ritual merupakan perbuatan penyembahan berhala.
Karena itulah, melalui Gereja Katolik, Pemkab Samosir ingin menyampaikan bahwa budaya yang tidak bertentangan dengan acara agama. “Bahkan setelah kita mendengar dari Pastor, ajaran budaya itu tidak salah.Tinggal bagaimana mengaplikasikannya dalam kehidupan sehari-hari dengan menata ritual sehingga tidak bertentangan dengan ajaran agama yang diyakini masyarakat Batak saat ini,”paparnya.
Dia berharap, jika nanti seluruh budaya dapat kembali pada bentuknya semua dan alam Samosir juga tertata kembali menjadi alam yang menunjukkan ke Batakan yang sesungguhnya, maka wisatawan juga akan tertarik untuk datang ke daerah ini. Dengan demikian budaya Batak dapat menjadi nilai jual yang cukup tinggi bagi peningkatan sektor pariwisata di daerah ini dan daerah sekitarnya.
“Jadi sebelum kita mengeksploitasi budaya sebagai sumber pendapatan kita juga sudah melakukan eksplorasi. Dan inilah yang ingin kita tanamkan. Sebab jika tidak, maka eksplorasi budaya untuk pengembangan pariwisata tidak akan dapat terlaksana,” paparnya.
Jadi Agenda Tahunan
Sementara itu Kepala Dinas Pariwisata Pemkab Samosir Melani Butar-butar menjelaskan pihaknya berusaha menggelar visual Mangalahat Horbo itu sesempurna mungkin kepada masyarakat, mulai dari acara Marulaon Nahohom, hingga acara puncak Mangalahat Horbo Sabtu (5/9). (baringin lumban gaol)
kembali ke tampilan utama
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar