Oleh: Hotman J Lumban Gaol
Ketika Yesus lahir di Betlehem ada tiga orang majus dari timur datang membawa persembahan. Mereka sampai ke sana berkat tuntunan bintang-bintang. Persembahan mereka terdiri dari emas, mur (damar yang harum), dan kemenyan. Tak ada kisah-kisah para rasul yang menyebutkan dari mana kemenyan itu diambil. Hanya para penulis sejarah yang mengatakan kemenyan berasal dari Tapanuli dengan pintu masuknya pelabuhan Barus. Para pelaut dari Persia (sekarang Iran) yang membawa kemenyaan itu ke dunia luar. Dan jadilah kemenyan sebagai perangkat pengharum upacara keagamaan. Kemenyan Tanah Batak sudah lama dikenal, diperkirakan sejak pelabuhan Barus mulai aktif sebagai pintu masuk dunia ke Tanalui, yaitu di abad ke-13.
Kemenyaan dalam bahasa Batak disebut haminjon, semantara dunia ilmu pengetahuan menyebutnya Styrax Benzoin. Selain di Tapanuli dia hanya ditemukan di Muangthai, Kamboja, dan Vietnam. Muangthai juga disebut orang Siam, karena itu getah yang harum itu dikenal pula dengan nama “Siam Benzoin.” Wilayah Humbang-Hasundutan di Tanah Batak dipuja sebagai sumber haminjon berkualitas terbaik. Sigarang-garang adalah salah satu huta hamijon di wilayah Dolok Sanggul.
Haminjon merupakan sumber mata pencaharian utama masyarakat Humbang-Hasundutan. Sekitar 65 persen warga hidup dari haminjon. Saat ini diperkirakan ada sekitar 16.283 ha lahan yang menjadi sumber kemenyan. Penghasil kemenyan utama adalah Kecamatan Dolok Sanggul, Onan Ganjang, Parlilitan, dan Pakkat, Sijamapolang, Pollung. Tahun 60-an terbentuk organisasi yang khusus mengurusi komoditas ini, Persatuan Pengusaha Kemenyan Indonesia (PERPEKI) berpusat di Dolok Sanggul. Dan pada tahun 1978 berdiri asosiasi Perkumpulan Pedagang/Pengusaha Kemenyan Tapanuli Utara (The North Tapanuli Benzoin Traders Association — BENTRAS).
Bagi parhaminjon, masalah utama yang mereka hadapi adalah soal harga, apalagi sekarang banyak pohon haminjon yang dibabat. Hutan sumber kemenyan telah dimasuki kegiatan Toba Pulp Lestari, pabrik bubur kertas, yang dianggap masyarakat sebagai sumber kerusakan lingkungan. Aktivitas industri itu merambah ke kawasan tangkapan Aek (sungai) Simonggo, yakni Aek Nauli, Simarombun, Pulo, dan Lae Kirta.
Keempat kawasan ini adalah daerah perladangan kemenyan. Saat ini hutan kemenyaan telah ditebangi Toba Pulp Lestari. Perusahaan yang tak henti-hentinya didemonstrasi masyarakat itu memiliki hutan konsesi yang merambah ke wilayah Humbang-Hasundutan, seluas 103.000 ha.
Gota ni haminjon
Gota ni haminjon (getah kemenyan) mengandung asam balsamat yang wangi, maka bias dijadikan parfum dan wangi-wangian serta bias dijadikan minyak untuk ritus-ritus agama. Bau dari wangian haminjon sangat mencolok; itu sebabnya perusahan-perusahan parfum dunia menjadikan haminjan menjadi bahan bakunya. Data menunjukkan, tahun 1990 produsen haminjon utama dari Tapanuli di Indonesia dengan luas tanaman kira-kira 22.670 hektar dan produksi getah sekira 2.000 ton per.
Di Humbang-Hasundutan, selain tanahnya yang cocok ditanami haminjon, sebagaimana haminjon dapat tumbuh dan subur pada areal berketinggian 500 hingga 2.000 meter diatas permukaan laut (dpl). Humbang Hasundutan sendiri sebagai habitat terbaik haminjon pada ketinggian 1.200 hingga 1.500 dpl. Misalnya, di Aeknauli, kecamatan Pollung misalnya haminjon walau baru berusia mudah sudah menghasilkan getah 0,1 kg per sekali panen (6 bulan), itu artinya kontur tanah sesuai dengan pohon keminyaan.
Umumnya kemenyan tumbuh di daerah pegunungan dengan ketinggian 900-1200 meter di atas permukaan laut, bersuhu antara 28-30 derajat Celsius di tanah podsolik merah kuning dan latosol. Keasaman tanah antara 5,5 hingga 6,5 dengan kemiringan tanah maksimal 25 derajat.
Keminyaan Setara Emas
Kemenyan menjadi komoditas andalan daerah jauh di bawah kopi dan karet, bahkan sekitar 65 persen keluarga (33.702) hidup dari pohon kemenyan. Keminyan mampu hidup hingga lebih dari 100 tahun.
“Mamiaro hamijon non butuh do kesabaran, Alana ikkon sabar do merawat. Merawat pohon kemenyan itu butuh kesabaran, sebab harus sabar untuk merawat kemiyaan,” ujar J Simanullang, 51 tahun. Salah satu parhaminjon di Sigarang-garang saat ditemui TAPIAN.
Proses pertama adalah maninge adalah cukilan pertama pada batang pohon akan menghasilkan getah berwarna putih. Getahnya ini baru bisa diambil sekitar tiga bulan kemudian itulah disebut mangaluak atau mengambil hasil getah keminyaan. Sebelum manige pertama adalah mangarambas yaitu membersihkan tumbuhan yang ada di sekitar batang pohon yang kira-kira 2 meter.
Alat-alat dalam para parhaminjon adalah agat berbetuk pisau kecil bulat digunakan untuk mengambil getah haminjon. Getah itu menempel di kulit pohon sehingga untuk memanen petani harus mencongkel kulit batang kemenyan. Getah putih yang disebut sidukapi adalah getah yang paling besar dari hamijon dan paling mahal. Dari bekas cukilan itu akan menghasilkan tetesan getah kedua yang disebut tahir biasanya dipanen dua-tiga bulan setelah memanen sidukapi harganya lebih murah.
Biasanya dalam manige ada ritus berdoa dibawa pohon dengan membawa lemak daging babi, kemudian sebelum maninge terlebih dahulu semua peralatan siolesi daging babi. Ada ritus para parhaminjon membuat kue itak gurgur, kue yang terbuat dari campuran tepung beras, gula merah, dan parutan kelapa. Kue itu dikunyah lalu disemburkan ke batang pohon kemenyan yang hendak disadap. Lalu mulailah manguris atau membersihkan pohon. Di Humbang-Hasundutan, Haminjon menjadi salah satu komiditi andalan.***
http://hojotmarluga.wordpress.com/
Kamis, 21 Januari 2010
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar