Oleh: Hojot Marluga
Dari amang manggulahi, ompung doli dan bapakku, semuanya parhaminjon. Kami punya hutan keminyaan di Sosor Napa, Ringkis, Siunong-unong dan Sigarang-garang arah ke Parlilitan. Semuanya di Dolok Sanggul. Demikian juga dari keluarga inong (saya panggil untuk ibu saya, Op Stephen) tulang mangulahi dan ompung, mereka semua parhaminjon (petani keminyaan). Tapi, praktis semuanya miskin.
Terus terang setelah di Jakarta aku mengingatnya menjadi kenangan indah. Sejak dulu tidak berniat, berharap pun tidak, menjadi petani haminjon. Karena, sejak kecil, umur sepuluh tahun hingga lulus STM saya melihat kehidupan para parhaminjon setiap liburan sekolah akan dibawa ke hutan haminjon (tombak) untuk membantu ompung atau bapa "mangarambas".
Hidup parhiminjon itu sangat menyedihkan. Makan hanya dengan "gulamo" dan tidur hanya dengan apai disebut “sanganon” dan tidak ada penerangan. Memang ada yang menyenangkan, kalau kita bosan, ada tempat rekreasi: ada "sampuran" air terjun atau "marsigurampang" mencari kepiting di sungai. Dan, umumnya sungai itulah menjadi perbatasan antara tombak yang satu dengan yang lain.
Parhaminjon bisa dua minggu tinggal di tombak, karena jauh dari tempat tinggal. Rata-rata jauhnya dari kampung 20-40 km--baru sampai ke tombak. Kalau ada yang pulang pergi disebutlah "marsulak", itupun bagi mereka yang punya kendaraan sepeda motor saja. Umumnya mereka jalan kaki menempuh "tombak" itu.
Saya tahu persis ritme kerja petani haminjon. Sampai di "tombak" biasanya yang pertama dibunyikan adalah "tuntung" (kentungan besar yang dibuat dari pohon nangka) menunjukkan parhaminjon baru datang, demikian juga kalau hendak pulang. Tuntung seperti media di tombak: kalau ada kecelakaan, sakit karena jatuh dari hamijon atau dikejar-kejar "babiat", tuntung pasti dibunyikan. Suaranya pun berbeda-beda, tergantung keadaan. Dan, jika tuntung yang satu dibunyikan, maka tuntung yang lain akan segera menyahut. Indah memang.
Memulai pekerjaan "mangguris" setelah itu "manige" selesai manige, haminjon akan mengeluarkan getah setelah tiga bulan. Setelah itu baru panen, yang disebut "mangaluak". Biasanya harga haminjon selalu disesuaikan harga mas, satu gram emas setara satu kilo haminjon.
Terus terang, kalau ada berita haminjon, saya sedih. Sampai hari ini babakku masih marhaminjon, tetapi yang saya tahu mereka (parhaminjon) itu tidak pernah ekonominya lebih baik, sejak dulu “ngeri”. Apalagi, masih banyak disana "panangko". Haminjon hilang biasanya justru hari Minggu, hari yang dimuliakan di kampung kami. Orang pergi bergereja-sedangkan penyamun menguduskan hari itu untuk manangko.
Hojot Marluga
pengelola
Ensiklopedia Tokoh Batak
http://tokohbatak.wordpress.com
Kamis, 21 Januari 2010
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Dari balik kenangan dan keperihan dari cerita anda tentang haminjon, pernahkah anda berpikir untuk merubah nasib petani haminjon di kampung dengan cara bertani haminjon yang lebih berbudaya ?
BalasHapusPetani haminjon di tapanuli tdk dpt dikatakan sebagai petani karena pada dasarnya mereka tidak pernah melakukan kegiatan budidaya tanaman haminjon, masyarakat hanya memanen haminjon di hutan. Untuk itulah perlu dilakukan konsep budidaya yaitu menanam tanaman haminjon dengan cara membuat kebun haminjon. KEsejahteraan petani haminjon akan jauh lebih baik dan pengelolaannya akan lebih mudah dibandingkan dgn cerita anda saat memanen haminjon.Orang batak di tanah perantauan banyak yg pintar tetapi masyarakat di bonapasogit sangat menyedihkan. Lebih menyakitkan banyak orang batak menghancurkan bonapasogit beserta sumberdaya alamnya hanya karena kedudukan dan hepeng. Buktinya PT.TPL telah menghancurkan hutan kemenyan di tapanuli menjadi hutan monokultur. Perhatian PEMKAB TAPUT terhadap budidaya kemenyan boleh dikatakan tidak ada. Sebenarnya banyak tanah adat masyarakat batak saat ini diambil PT.TPL untuk HTI. Jika tanah ulayat tsb dijadikan hutan kemenyan maka masyarakat batak akan benar-benar makmur.
salam
jbs