TARUTUNG (SI)Guna mencegah terjadinya penipuan dan berbagai persoalan terhadap petani kemenyan sebagaimana yang telah terjadi di Humbang Hasundutan (Humbahas) maka petani kemenyan di harapkan segera membentuk asosiasi perkumpulan petani kemenyan. Dengan adanya asosiasi tersebut, maka para petani kemenyan dapat semakin kuat dan ikut serta dalam penentuan harga di pasar. Sebab selama ini para petani cenderung hanya menjadi objek penyedia barang. Semenatra keberadaan kemenyan merupakan salah satu tanaman unggulan di Tapanuli. “Kusus untuk Taput sendiri di kawasan Sipoholon, baru-baru ini kita mengetahui bahwa para petani terpaksa harus menjual kemenyannya dengan harga murah. Padahal jika kita lihat di pasaran harga kemenyan itu selalu tinggi,” terang anggota legislative Taput, Charles Simanungkalit, di Tarutung, kemarin. Keberadaan kemenyan yang tidak dapat tumbuh disemua tempat dan tidak dapat tumbuh dengan baik jika hanya secara sporadic, karena itulah asosiasi petani kemenyan nantinya diharapkan dapat ikut mendukung pelestarian kemenyan. Selain itu, persoalan keberadaan kemenyan dapat menjadi alasan yang kuat untuk membentuk perlindungan terhadap petani kemenyan. Sebab selama ini petani kemenyan sangat kurang diperhatikan oleh berbagai pihak. Sehingga sering muncul berbagai persoalan pada petani. “Karena itu petani kemenyan juga harus mendapat perhatian kusus, terlebih dalam mengembangkan sector hasil tani di Taput. Karena harus diketahu juga pertanian bukan hanya sebatas kopi, padi dan tanaman buah lainnya. Serta kita harus belajar dari apa yang terjadi pada saudara-saudara kita Marga Marbun di Humbahas, serta sebaiknya tidak terjadi di Taput,” katanya Petani kemenyaan di Taput banyak tersebar di kawasan Sipoholon, Parmonangan, dan Garoga. Saat ini dari pantau harga, untuk getah murni dijual petani seharga Rp 110.000 per kg. Sementara untuk jenis getah kotor dengan ukuran kecil mencapai Rp 40.000 per kg, untuk jenis laklak atau kulit getah tetap pada harga Rp 1.000-1.500 per kg. “Kalau dari segi kerumitan dan kualistas kemenyan Taput itu sudah harus dapat dijual seharga Rp 180.000 per kg. Namun, adanya permainan tengkulak dan desakan kebutuhan petani maka harga Rp 110.000 per kg pun di terima para petani,” katanya Charles mengatakan bahwa selain persoalan harga, petani kemenyan juga memiliki berbagai keterancaman. Termasuk masalah lahan karena pada umumnya para petani kemenyan merupakan penerus pertanian warisan secara turun temurun dengan menggunakan hutan sebagai kawasan pertaniannya. “Karena secara prinsip kemenyan itu harus tumbuh di hutan dan ditutup pepohonan. Kita akan segera mengusulkan agar petani diberikan perlindungan oleh Pemerintah selain itu kita juga akan meminta dilakukannya pendidikan pembentukan asosiasi. Nantinya apa yang terjadi di kabupaten lain tidak terjadi bagi petani kemenyan di Taput,” paparnya. Salah satu petani kemenyan, Mangiring Manalu, 42 membenarkan bahwa sering terjadi permainan harga dari para distributor yang memamfaatkan tingginya kebutuhan. Selain itu persoalan kepemilikan lahan kemenyan memang saat ini belumlah ada untuk daerah Taput, namun tidak menutup kemungkinan terjadi seperti apa yang dirasakan petani kemenyan di Humbahas. “Memang kita sangat berharap adanya perlindungan untuk kami para petani kemenyan. Sebab dengan demikian mungkin masyarakat akan lebih bersemangat dalam mengembangkan kemenyan,” paparnya. (baringin lumban gaol)
Kembali Ke Halaman Depan
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Kemenyan yang dihasilkan di Tapanuli sampai saat ini masih merupakan produk hasil hutan non kayu. Artinya sampai saat ini budidaya tanaman kemenyan belum menjadi perhatian masyarakat apalagi pemerintah. Seharusnya dilakukan upaya budidaya tanaman kemenyan di Tapanuli dan pemerintah daerah memprakarsai budidaya kemenyan.
BalasHapussalam
jbs